Sudah lama saya tidak membuat cerita tentang hal yang berhubungan sejarah terutama ini berkaitan langsung dengan Sejarah Leluhur saya sendiri. Saya masih ingat ketika masih anak-anak dilarang untuk berkunjung ke Cirebon karena dari nenek berpesan bahwa sebagai Keturunan Prabu Geusan Ulun tidak diperbolehkan main ke Cirebon karena Sejarah Putri Harisbaya yang istri Pamannya Prabu Geusan Ulun kepincut oleh Prabu Geusan Ulun, ketika waktu itu Prabu Geusan Ulun berkunjung ke Cirebon. Putri Harisbaya meninggalkan suaminya pergi ke Sumedang menemui Prabu Geusan Ulun yang waktu itu sudah memiliki istri Nyimas Ratu Pucuk Umum akhirnya atas restu dari istrinya Putri Harisbaya dinikahi sebagai istri ke-2.
Oleh karena Sejarah tersebut kami patuh kepada pesan nenek apalagi kami di takut-takuti karena Uwak saya (Kakak Sepupu Ibu) menikah dengan orang Cirebon masih keturunan Keraton Kasepuhan disakiti oleh suaminya yaitu dimadu menikah lagi dengan orang Cirebon.
Ternyata sejarah tersebut tidak selamanya akan berdampak tidak baik, malah saya dipertemukan dengan Pendamping Hidup yang menuntun saya untuk mengetahui semua Sejarah Asal Usul Siapa Prabu Geusan Ulun karena saya tidak tahu siapa Ayahanda Prabu Geusan Ulun. Sekarang saya paham Prabu Geusan Ulun adalah Putra Tunggal Sunan Syarief Hidayatullah dengan Putri Ong Tin.
Suami saya adalah R.Wijaya (Nama yang dikenal di Keraton Kasepuhan), sedangkan nama sebenarnya adalah R.Mian Wijaya. Pada tanggal 31 Maret 2014 kemarin Ibunda R.Wijaya berpulang ke Rahmatullah, lalu suami saya pulang ke Cirebon untuk menguburkan dan mengadakan Tahlilan selama 7 hari sebagai Putera berbakti kepada orang tua untuk yang terakhir kalinya.
Selama 3hari 3malam suami saya tidak makan, tidak minum dan tidak tidur karena bersedih atas kepergian ibundanya, sebab suami saya sudah tidak memiliki orang tua lagi karena ayahnya sudah sejak beliau usia 10 thn ayahnya telah berpulang ke Rahmatullah duluan, beliau dibesarkan oleh ibunya dalam hidup penuh keprihatinan. Sehingga baginya tidak makan tidak minum dan tidak tidur sudah terbiasa dilakukannya.
Pada Malam ke-3 ada wangsit untuk datang ke Pasir Beresan kalau dulu itu Pasir Ipis pas hari ke-4 R.Wijaya berangkat dari kediamannya di Lemah Tambak ke Pasir Beresan di tepi laut memang itu di ujung wilayah Gunung Jati dimana dulunya tempat tersebut berlabuhnya Kapal Putri Ong Tin tiba di Pulau Jawa Wilayah Cirebon untuk menemui Sunan Syarief Hidayatullah. Suami saya tiba di Pasir Beres sekitar jam 24.00 bulan ke-4 tahun 2014. Setelah berdzikir di tepi laut muncul Cahaya Putih namun tidak lari begitu ditangkap oleh R.Wijaya sebab memang Wangsitnya menyatakan bahwa ada yang harus diberikan kepada Keturunan Putri Ong Tin. Ternyata Cahaya tersebut berubah menjadi Batu Cat Eye (Batu Mata Kucing) seukuran untuk Liontin. Akhirnya ketika saya pulang ke Cirebon untuk Tahlilan hari ke-5 s.d. ke-7 alm.ibu mertua saya, dimana di hari ke-6 saya menginginkan jalan2 ke Keraton Kasepuhan Cirebon karena ingin ke Musium Keraton untuk melihat peninggalan leluhur saya. Sebelum berangkat saya bilang ke suami saya apakah kalung ini saya pakai saja. Suami menyuruh pakai Liontin yang Cat Eye karena saya juga memiliki kalung yang Liontinnya Mustika Careh Bulan.
Begitu saya hendak memasuki Keraton pasti kita akan Daftar Tamu, disitu suami saya bertemu dengan Ir.Kosasih bahkan ketika bersalaman dengan saya beliau terlihat sangat terkejut.
Melihat Liontin Cat Eye yang saya pakai, namun saya tidak tahu jika beliau itu Ir.Kosasih. Saya tahu setelah membaca Kisah Batu Bersejarah milik Putri Ong Tin yang dicari dan diburu oleh semua orang.
Rasa penasaran saya setelah membaca Kisah tersebut, saya menanyakan kepada suami apakah Ir.Kosasih masih ada, lalu suami saya mengatakan bahwa yang ada di Pos Keamanan ketika Daftar Tamu yang bersalaman dengan kamu itulah Ir.Kosasih. Pantas gait yang mendampingi kami menyarankan kepda saya untuk mengambil gambar Peninggalan Putri Ong Tin yaitu Tempat menyimpan Jamu & Cermin untuk berias yang ada di dalam lemari kaca. Rupanya beliau paham saya adalah keturunan Putri Ong Tin karena Kalung yang saya pakai.
Mungkin itu sebagai Tanda Terimakasih kepada saya dimana selama ini tidak ada satu pun Keturunan Prabu Geusan Ulun yang datang untuk Berziarah mendoakan Sunan Syarief Hidayatullah dan Putri Ong Tin. Sebelum mendapatkan Liontin Cat Eye saya juga diberi Anting/Sueng oleh Sunan Syarief Hidayutullah di bulan 12 tahun 2012, sehingga saya memiliki Sueng/Anting dan Liontin Bersejarah.
Saya kisahkan ini untuk memberikan pengetahuan bahwa jangan pernah menginginkan sesuatu dinilai dengan materi dunia, Sebab nilai Sejarah yang dimiliki suatu Benda sangat tak ternilai harganya untuk menjelaskan kepada Anak Cucu kelak.